Arsip Bulanan: September 2008

Nikmatnya Shalat yang Khusyuk

Shalat merupakan ibadah yang dahsyat sekali. Ia dapat menenteramkan hati yang gelisah, memelihara kesehatan jasmani dan rohani, menyelamatkan dunia dan akhirat, dan sebagainya. Tetapi hal ini hanya dicapai kalau kita mengerjakan shalat dengan khusyuk.

Sudah banyak buku ditulis tentang masalah ini, tetapi buku ini berusaha memberi petunjuk yang sederhana mengenai masalah ini dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW. Khusyuk artinya tunduk, yaitu mengerjakan shalat semata-mata karena tunduk dan ingat kepada Allah, bukan karena kepentingan yang lain, seperti cari muka dan sebagainya.

Shalat itu juga harus dikerjakan dengan sabar, tidak mengeluh, malas, dan semacamnya. Kalau kita mengerjakan shalat semata-mata karena Allah SWT, bukan karena kepentingan yang lain, maka tentulah kita dapat mengerjakan shalat dengan sabar dan ikhlas.

Selain mengerjakan shalat kita juga wajib mengeluarkan zakat harta kalau sudah mencapai nishab (ukuran)nya dan waktunya. Shalat dan zakat merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Shalat merupakan wujud hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, sedang zakat, sedekah dan infak merupakan wujud hubungan manusia dengan sesamanya, sehingga lahirlah individu dan masyarakat yang damai, sejahtera dan bahagia. Inilah nikmatnyashalat yang khusyuk, yang dibahas dalam buku ini.

Nikmatnya Tahlil

Masyarakat kita terbagi dua dalam memahami tahlil. Sebagian memahami tahlil sebagai zikir kepada Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan membaca lafaz “La ilaha illallah” (Tiada Tuhan selain Allah SWT) dan semacamnya tanpa mengaitkan dengan orang yang sudah meninggal dunia.

Sebagian lagi memahami tahlil sebagai rangkaian zikir dan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT untuk orang yang sudah meninggal. Dalam rangkaian zikir dan doa ini terdapat ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat inilah yang dibahas dalam buku ini agar kita tidak hanya membacanya, tetapi juga memahami maknanya.

Kedua pengertian itu tidak perlu dipertentangkan, karena menurut pengalaman penulis yang sering membaca tahlil, keduanya merupakan zikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendatangkan ketenangan jiwa yang mantap sekali. Inilah nikmatnya tahlil.

Nikmatnya Shalat Jamaah

Shalat merupakan ibadah yang mengandung hikmah dan keutamaan yang besar sekali, apalagi dikerjakan secara berjamaah. Selain akan mendapat pahala yang berlipat ganda di akhirat kelak shalat jamaah dalam kehidupan dunia memiliki banyak manfaat, seperti menimbulkan kesetaraan, persaudaraan, persatuan, tenggang rasa dan cinta kasih.

Itu karena dalam shalat jamaah tidak ada perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin, atasan dengan bawahan, yang kuat dengan yang lemah, yang memerintah dengan yang diperintah, dan sebagainya. Melalui pertemuan lima kali dalam sehari melalui shalat jamaah orang kaya, yang kuat, yang memerintah secara perlahan memiliki kepedulian kepada mereka yang miskin dan yang lemah.

Sebaliknya, karena kepedulian itu orang miskin dan yang lemah tidak benci dan dengki kepada mereka yang kaya dan kuat, malah timbul rasa simpatik kepada mereka, sehingga lahirlah masyarakat yang harmonis, sejahtera, damai dan bahagia. Inilah nikmatnya shalat jamaah. Buku ini mmbantu untuk memahami hikmah dan keutamaan ibadah yang luar biasa ini.

Nikmatnya Shalat

Shalat merupakan ibadah yang dahsyat sekali, ia membawa kebaikan di dunia dan akhirat bagi yang mengerjakannya. Inilah nikmatnya shalat. Kebaikan di akhirat ialah bahwa orang yang mengerjakannya akan mendapat pahala, diampuni dosa-dosanya, dan masuk surga. Sebaliknya orang yang melalaikan shalat diancam dengan azab yang pedih.

Kebaikan di akhirat itu berdampak positif bagi kehidupan dunia, seperti merasakan ketenangan batin, hidup sehat, dan kadang-kadang merasakan keajaiban, seperti selamat dari ledakan bom karena merasa dilindungi oleh Tuhan setelah menjalankan tepat pada waktunya. Itulah keutamaan-keutamaan shalat dan buku ini membantu untuk memahami keutamaan shalat dengan mengacu kepada hadits-hadits Rasulullah SAW.

Tafsir Al-Qur’an: Nikmatnya Tobat

Secara harfiah tobat berarti kembali, maksudnya kembali dari perbuatan yang salah dan dosa menuju perbuatan yang baik (amal saleh). Ini harus diwujudkan dengan ucapan istighfar, seperti astaghfirullah, artinya aku mohon ampun kepada Allah SWT, disertai dengan rasa penyesalan yang mendalam terhadap kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi, yang dibuktikan dengan tindakan nyata.

Kita harus bertobat, karena pasti pernah berbuat salah dan dosa, besar atau kecil, disengaja atau tidak, kelihatan atau tersembunyi. Para nabi dan rasul yang ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa) dan sudah dijamin masuk surga juga bertobat. Kalau kita bertobat, maka Allah akan mengampuni dan mencurahkan rahmat-Nya kepada kita, sehingga kita akan mencapai keberhasilan hidup di dunia dan akhirat. Inilah nikmatnya tobat. Tetapi kalau tidak bertobat sampai meninggal, maka kita akan celaka dan merugi. Buku ini akan membantu untuk memahami hakikat tobat berdasarkan Al-Qur’an.

Sufi-sufi Jawa: Mengenalkan Wajah Islam yang Ramah

Para sufi dikenal memiliki sikap-sikap yang terpuji, seperti sabar, ikhlas, sederhana, jujur, dan sebagainya. Hal ini mempengaruhi sikap mereka dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di mana pun, termasuk di Jawa. Islam yang mereka sebarkan dan kembangkan terasa lemah lembut, damai, ramah, dan toleran dengan mereka yang memiliki paham yang berbeda.

Dengan cara seperti itu banyak orang yang bersimpati kepada perjuangan mereka, dan kemudian memeluk Islam dengan kemauan dan kesadaran sendiri. Inilah rahasia keberhasilan penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa khususnya dan Indonesia umumnya.

Hal itu perlu diingat kembali ketika pada saat ini banyak orang yang berjuang atas nama Islam, tetapi caranya sangat garang, baik ucapan maupun tindakan, seperti menghalangi orang-orang dan kelompok lain yang berbeda paham menjalankan ibadahnya, sampai tindakan perusakan seperti meledakkan bom.

Buku ini hendak mengingatkan kembali bahwa cara seperti itu tidak sesuai dengan sejarah masuknya Islam di negeri ini, termasuk di Jawa. Dahulu Islam datang dengan lemah lembut, damai, ramah dan toleran, dan cara ini telah terbukti berhasil menyebarkan dan mengembangkan Islam di negeri ini.

Tafsir Al-Qur’an: Rahasia Kekuatan Surat Ya Sin

Surat Ya Sin yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai jantung Al-Qur’an merupakan surat Al-Qur’an yang paling sering dibaca oleh umat Islam. Ada tradisi umat Islam membaca Surat Ya Sin pada malam dan hari Jumat. Surat ini juga selalu dibaca untuk orang yang sedang sekarat atau akan meninggal dan orang yang sudah meninggal dunia (tahlil). Sudah banyak bukti bahwa ada orang yang susah meninggal sewaktu sekarat atau akan meninggal, sehingga tersiksa, karena berada dalam kondisi antara meninggal dan belum, tetapi kemudian meninggal dengan mudah setelah dibacakan Surat Ya Sin.

Surat ini juga sering dibaca untuk keperluan tertentu, seperti untuk penyembuhan dan penyakit, untuk menemukan barang yang hilang dicuri orang, untuk memperlancar urusan-urusan pekerjaan, bisnis, studi, dan masalah apapun yang sedang dihadapi. Semua itu membuktikan kekuatan Surat Ya Sin.

Tetapi ada baiknya juga kita mengerti isi surat ini agar kita mendapat petunjuk darinya. Untuk keperluan inilah tafsir Surat Ya Sin ini ditulis. Sudah banyak tafsir Surat Ya Sin ditulis, tetapi tafsir Surat Ya Sin ini memiliki kelebihan dibanding dengan yang lain, yaitu bahasanya sederhana dan lancar, sehingga mudah dipahami oleh siapapun yang membacanya. Kemudian penulis buku ini sudah mempraktekkan membaca Surat Ya Sin setiap malam Jumat selama bertahun-tahun, sehingga sudah merasakan kekuatannya.

Nikmatnya Iman: Menenangkan Hati dan Pikiran

Iman sebenarnya tidak statis, sebagaimana dihayati oleh umumnya orang selama ini, tetapi dinamis, sehingga menimbulkan motivasi dan kegairahan hidup. Dengan kondisi iman seperti ini, maka orang akan selalu terdorong untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk.

Selanjutnya dengan iman yang demikian pula perbuatan baik akan terasa menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan buruk membawa kegelisahan dan kesengsaraan. Kemudian dengan kondisi iman seperti itu orang tidak akan kecewa bila usahanya tidak mencapai hasil yang diharapkan, karena percaya bahwa Allah SWT akan memberikan yang lebih baik. Hanya saja mungkin usaha itu memerlukan kerja yang lebih keras, keterampilan yang lebih baik dan cara kerja yang lebih disiplin.

Jelaslah bahwa iman menenangkan hati dan pikiran, sehingga membawa kebahagiaan, kedamaian, dan kesehatan lahir dan batin dalam kehidupan diri, keluarga, dan masyarakat. Iman seperti inilah yang perlu kita usahakan, dan mudah-mudahan buku ini dapat membantu untuk keperluan itu.

Tafsir Al-Qur’an: Menyingkap Rahasia Hati

Ada empat istilah yang dipakai oleh Al-Qur’an untuk menyebut hati, yaitu shadr, qalb, fuad atau af’idah, dan albab. Keempat istilah ini menggambarkan lapisan-lapisan hati dan kecenderungannya, baik atau buruk. Kalau seseorang menggunakan hatinya dalam arti shadr, qalb, dan fuad atau af’idah, maka ia bisa baik dan bisa pula buruk. Tetapi kalau ia menggunakan albabnya, maka ia pasti baik.

Lapisan-lapisan itu terlihat pada makna keempat istilah itu. Shadr berarti hati bagian luar, qalb berarti hati bagian dalam, fuad atau af’idah berarti hati yang lebih dalam, dan albab berarti hati yang paling dalam atau hati sanubari atau hati nurani.

Dengan demikian, Al-Qur’an telah menyingkap rahasia hati, suatu hal yang bagi manusia sendiri merupakan misteri. Buktinya dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu orang-orang berkata, misalnya tidak mengerti kehendak hatinya, tidak dapat mengendalikan hatinya, dan sebagainya.

Jadi, buku ini sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin menyelami hatinya, sekaligus memohon petunjuk Allah agar diberikan hati yang tercerahkan. Karena walaupun sudah banyak buku ditulis tentang hati, tetapi buku mengenai hati menurut Al-Qur’an seperti ini masih amat langka.

Etika dan Tasawuf Jawa: Untuk Meraih Ketenangan Jiwa

Para sufi dikenal memiliki sikap-sikap yang terpuji, seperti sabar, ikhlas, sederhana, jujur, dan sebagainya. Hal ini mempengaruhi sikap mereka dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di mana pun, termasuk di Jawa. Islam yang mereka sebarkan dan kembangkan terasa lemah lembut, damai, ramah, dan toleran dengan mereka yang memiliki paham yang berbeda.

Dengan cara seperti itu banyak orang yang bersimpati kepada perjuangan mereka, dan kemudian memeluk Islam dengan kemauan dan kesadaran sendiri. Inilah rahasia keberhasilan penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa khususnya dan Indonesia umumnya.

Hal itu perlu diingat kembali ketika pada saat ini banyak orang yang berjuang atas nama Islam, tetapi caranya sangat garang, baik ucapan maupun tindakan, seperti menghalangi orang-orang dan kelompok lain yang berbeda paham menjalankan ibadahnya, sampai tindakan perusakan seperti meledakkan bom.

Buku ini hendak mengingatkan kembali bahwa cara seperti itu tidak sesuai dengan sejarah masuknya Islam di negeri ini, termasuk di Jawa. Dahulu Islam datang dengan lemah lembut, damai, ramah dan toleran, dan cara ini telah terbukti berhasil menyebarkan dan mengembangkan Islam di negeri ini.