Nikmatnya Shalat yang Khusyuk

Shalat merupakan ibadah yang dahsyat sekali. Ia dapat menenteramkan hati yang gelisah, memelihara kesehatan jasmani dan rohani, menyelamatkan dunia dan akhirat, dan sebagainya. Tetapi hal ini hanya dicapai kalau kita mengerjakan shalat dengan khusyuk.

Sudah banyak buku ditulis tentang masalah ini, tetapi buku ini berusaha memberi petunjuk yang sederhana mengenai masalah ini dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW. Khusyuk artinya tunduk, yaitu mengerjakan shalat semata-mata karena tunduk dan ingat kepada Allah, bukan karena kepentingan yang lain, seperti cari muka dan sebagainya.

Shalat itu juga harus dikerjakan dengan sabar, tidak mengeluh, malas, dan semacamnya. Kalau kita mengerjakan shalat semata-mata karena Allah SWT, bukan karena kepentingan yang lain, maka tentulah kita dapat mengerjakan shalat dengan sabar dan ikhlas.

Selain mengerjakan shalat kita juga wajib mengeluarkan zakat harta kalau sudah mencapai nishab (ukuran)nya dan waktunya. Shalat dan zakat merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Shalat merupakan wujud hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, sedang zakat, sedekah dan infak merupakan wujud hubungan manusia dengan sesamanya, sehingga lahirlah individu dan masyarakat yang damai, sejahtera dan bahagia. Inilah nikmatnyashalat yang khusyuk, yang dibahas dalam buku ini.

Nikmatnya Tahlil

Masyarakat kita terbagi dua dalam memahami tahlil. Sebagian memahami tahlil sebagai zikir kepada Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan membaca lafaz “La ilaha illallah” (Tiada Tuhan selain Allah SWT) dan semacamnya tanpa mengaitkan dengan orang yang sudah meninggal dunia.

Sebagian lagi memahami tahlil sebagai rangkaian zikir dan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT untuk orang yang sudah meninggal. Dalam rangkaian zikir dan doa ini terdapat ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat inilah yang dibahas dalam buku ini agar kita tidak hanya membacanya, tetapi juga memahami maknanya.

Kedua pengertian itu tidak perlu dipertentangkan, karena menurut pengalaman penulis yang sering membaca tahlil, keduanya merupakan zikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendatangkan ketenangan jiwa yang mantap sekali. Inilah nikmatnya tahlil.

Nikmatnya Shalat Jamaah

Shalat merupakan ibadah yang mengandung hikmah dan keutamaan yang besar sekali, apalagi dikerjakan secara berjamaah. Selain akan mendapat pahala yang berlipat ganda di akhirat kelak shalat jamaah dalam kehidupan dunia memiliki banyak manfaat, seperti menimbulkan kesetaraan, persaudaraan, persatuan, tenggang rasa dan cinta kasih.

Itu karena dalam shalat jamaah tidak ada perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin, atasan dengan bawahan, yang kuat dengan yang lemah, yang memerintah dengan yang diperintah, dan sebagainya. Melalui pertemuan lima kali dalam sehari melalui shalat jamaah orang kaya, yang kuat, yang memerintah secara perlahan memiliki kepedulian kepada mereka yang miskin dan yang lemah.

Sebaliknya, karena kepedulian itu orang miskin dan yang lemah tidak benci dan dengki kepada mereka yang kaya dan kuat, malah timbul rasa simpatik kepada mereka, sehingga lahirlah masyarakat yang harmonis, sejahtera, damai dan bahagia. Inilah nikmatnya shalat jamaah. Buku ini mmbantu untuk memahami hikmah dan keutamaan ibadah yang luar biasa ini.

Nikmatnya Shalat

Shalat merupakan ibadah yang dahsyat sekali, ia membawa kebaikan di dunia dan akhirat bagi yang mengerjakannya. Inilah nikmatnya shalat. Kebaikan di akhirat ialah bahwa orang yang mengerjakannya akan mendapat pahala, diampuni dosa-dosanya, dan masuk surga. Sebaliknya orang yang melalaikan shalat diancam dengan azab yang pedih.

Kebaikan di akhirat itu berdampak positif bagi kehidupan dunia, seperti merasakan ketenangan batin, hidup sehat, dan kadang-kadang merasakan keajaiban, seperti selamat dari ledakan bom karena merasa dilindungi oleh Tuhan setelah menjalankan tepat pada waktunya. Itulah keutamaan-keutamaan shalat dan buku ini membantu untuk memahami keutamaan shalat dengan mengacu kepada hadits-hadits Rasulullah SAW.

Tafsir Al-Qur’an: Nikmatnya Tobat

Secara harfiah tobat berarti kembali, maksudnya kembali dari perbuatan yang salah dan dosa menuju perbuatan yang baik (amal saleh). Ini harus diwujudkan dengan ucapan istighfar, seperti astaghfirullah, artinya aku mohon ampun kepada Allah SWT, disertai dengan rasa penyesalan yang mendalam terhadap kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi, yang dibuktikan dengan tindakan nyata.

Kita harus bertobat, karena pasti pernah berbuat salah dan dosa, besar atau kecil, disengaja atau tidak, kelihatan atau tersembunyi. Para nabi dan rasul yang ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa) dan sudah dijamin masuk surga juga bertobat. Kalau kita bertobat, maka Allah akan mengampuni dan mencurahkan rahmat-Nya kepada kita, sehingga kita akan mencapai keberhasilan hidup di dunia dan akhirat. Inilah nikmatnya tobat. Tetapi kalau tidak bertobat sampai meninggal, maka kita akan celaka dan merugi. Buku ini akan membantu untuk memahami hakikat tobat berdasarkan Al-Qur’an.

Sufi-sufi Jawa: Mengenalkan Wajah Islam yang Ramah

Para sufi dikenal memiliki sikap-sikap yang terpuji, seperti sabar, ikhlas, sederhana, jujur, dan sebagainya. Hal ini mempengaruhi sikap mereka dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di mana pun, termasuk di Jawa. Islam yang mereka sebarkan dan kembangkan terasa lemah lembut, damai, ramah, dan toleran dengan mereka yang memiliki paham yang berbeda.

Dengan cara seperti itu banyak orang yang bersimpati kepada perjuangan mereka, dan kemudian memeluk Islam dengan kemauan dan kesadaran sendiri. Inilah rahasia keberhasilan penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa khususnya dan Indonesia umumnya.

Hal itu perlu diingat kembali ketika pada saat ini banyak orang yang berjuang atas nama Islam, tetapi caranya sangat garang, baik ucapan maupun tindakan, seperti menghalangi orang-orang dan kelompok lain yang berbeda paham menjalankan ibadahnya, sampai tindakan perusakan seperti meledakkan bom.

Buku ini hendak mengingatkan kembali bahwa cara seperti itu tidak sesuai dengan sejarah masuknya Islam di negeri ini, termasuk di Jawa. Dahulu Islam datang dengan lemah lembut, damai, ramah dan toleran, dan cara ini telah terbukti berhasil menyebarkan dan mengembangkan Islam di negeri ini.

Tafsir Al-Qur’an: Rahasia Kekuatan Surat Ya Sin

Surat Ya Sin yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai jantung Al-Qur’an merupakan surat Al-Qur’an yang paling sering dibaca oleh umat Islam. Ada tradisi umat Islam membaca Surat Ya Sin pada malam dan hari Jumat. Surat ini juga selalu dibaca untuk orang yang sedang sekarat atau akan meninggal dan orang yang sudah meninggal dunia (tahlil). Sudah banyak bukti bahwa ada orang yang susah meninggal sewaktu sekarat atau akan meninggal, sehingga tersiksa, karena berada dalam kondisi antara meninggal dan belum, tetapi kemudian meninggal dengan mudah setelah dibacakan Surat Ya Sin.

Surat ini juga sering dibaca untuk keperluan tertentu, seperti untuk penyembuhan dan penyakit, untuk menemukan barang yang hilang dicuri orang, untuk memperlancar urusan-urusan pekerjaan, bisnis, studi, dan masalah apapun yang sedang dihadapi. Semua itu membuktikan kekuatan Surat Ya Sin.

Tetapi ada baiknya juga kita mengerti isi surat ini agar kita mendapat petunjuk darinya. Untuk keperluan inilah tafsir Surat Ya Sin ini ditulis. Sudah banyak tafsir Surat Ya Sin ditulis, tetapi tafsir Surat Ya Sin ini memiliki kelebihan dibanding dengan yang lain, yaitu bahasanya sederhana dan lancar, sehingga mudah dipahami oleh siapapun yang membacanya. Kemudian penulis buku ini sudah mempraktekkan membaca Surat Ya Sin setiap malam Jumat selama bertahun-tahun, sehingga sudah merasakan kekuatannya.

Nikmatnya Iman: Menenangkan Hati dan Pikiran

Iman sebenarnya tidak statis, sebagaimana dihayati oleh umumnya orang selama ini, tetapi dinamis, sehingga menimbulkan motivasi dan kegairahan hidup. Dengan kondisi iman seperti ini, maka orang akan selalu terdorong untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk.

Selanjutnya dengan iman yang demikian pula perbuatan baik akan terasa menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan buruk membawa kegelisahan dan kesengsaraan. Kemudian dengan kondisi iman seperti itu orang tidak akan kecewa bila usahanya tidak mencapai hasil yang diharapkan, karena percaya bahwa Allah SWT akan memberikan yang lebih baik. Hanya saja mungkin usaha itu memerlukan kerja yang lebih keras, keterampilan yang lebih baik dan cara kerja yang lebih disiplin.

Jelaslah bahwa iman menenangkan hati dan pikiran, sehingga membawa kebahagiaan, kedamaian, dan kesehatan lahir dan batin dalam kehidupan diri, keluarga, dan masyarakat. Iman seperti inilah yang perlu kita usahakan, dan mudah-mudahan buku ini dapat membantu untuk keperluan itu.

Tafsir Al-Qur’an: Menyingkap Rahasia Hati

Ada empat istilah yang dipakai oleh Al-Qur’an untuk menyebut hati, yaitu shadr, qalb, fuad atau af’idah, dan albab. Keempat istilah ini menggambarkan lapisan-lapisan hati dan kecenderungannya, baik atau buruk. Kalau seseorang menggunakan hatinya dalam arti shadr, qalb, dan fuad atau af’idah, maka ia bisa baik dan bisa pula buruk. Tetapi kalau ia menggunakan albabnya, maka ia pasti baik.

Lapisan-lapisan itu terlihat pada makna keempat istilah itu. Shadr berarti hati bagian luar, qalb berarti hati bagian dalam, fuad atau af’idah berarti hati yang lebih dalam, dan albab berarti hati yang paling dalam atau hati sanubari atau hati nurani.

Dengan demikian, Al-Qur’an telah menyingkap rahasia hati, suatu hal yang bagi manusia sendiri merupakan misteri. Buktinya dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu orang-orang berkata, misalnya tidak mengerti kehendak hatinya, tidak dapat mengendalikan hatinya, dan sebagainya.

Jadi, buku ini sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin menyelami hatinya, sekaligus memohon petunjuk Allah agar diberikan hati yang tercerahkan. Karena walaupun sudah banyak buku ditulis tentang hati, tetapi buku mengenai hati menurut Al-Qur’an seperti ini masih amat langka.

Etika dan Tasawuf Jawa: Untuk Meraih Ketenangan Jiwa

Para sufi dikenal memiliki sikap-sikap yang terpuji, seperti sabar, ikhlas, sederhana, jujur, dan sebagainya. Hal ini mempengaruhi sikap mereka dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di mana pun, termasuk di Jawa. Islam yang mereka sebarkan dan kembangkan terasa lemah lembut, damai, ramah, dan toleran dengan mereka yang memiliki paham yang berbeda.

Dengan cara seperti itu banyak orang yang bersimpati kepada perjuangan mereka, dan kemudian memeluk Islam dengan kemauan dan kesadaran sendiri. Inilah rahasia keberhasilan penyebaran dan pengembangan Islam di Jawa khususnya dan Indonesia umumnya.

Hal itu perlu diingat kembali ketika pada saat ini banyak orang yang berjuang atas nama Islam, tetapi caranya sangat garang, baik ucapan maupun tindakan, seperti menghalangi orang-orang dan kelompok lain yang berbeda paham menjalankan ibadahnya, sampai tindakan perusakan seperti meledakkan bom.

Buku ini hendak mengingatkan kembali bahwa cara seperti itu tidak sesuai dengan sejarah masuknya Islam di negeri ini, termasuk di Jawa. Dahulu Islam datang dengan lemah lembut, damai, ramah dan toleran, dan cara ini telah terbukti berhasil menyebarkan dan mengembangkan Islam di negeri ini.

Etika Media Massa Indonesia

Aturan-aturan mengenai media massa ada yang masuk kategori hukum dan ada etika. Banyak orang sulit membedakan antara keduanya. Keduanya berkembang secara bersama-sama dan saling melengkapi dalam menopang perkembangan media massa di Indonesia. Perbedaannya ialah hukum diupayakan penegakannya oleh pemerintah, sedang etika diupayakan penegakannya oleh kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai kepentingan di bidang ini.

Karena itu, etika media massa diupayakan penegakannya oleh kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai kepentingan di bidang media massa. Etika media massa mempunyai cakupan yang luas, tetapi buku ini hanya menyajikan tiga hal yang sangat menonjol, yaitu etika pers, etika penyiaran,
dan etika periklanan.

Buku ini perlu dibaca oleh para mahasiswa fakultas atau jurusan atau sekolah tinggi ilmu komunikasi serta siapa saja yang berminat terhadap perkembangan etika media massa Indonesia.

Syekh Siti Jenar: Pengaruh Tasawuf Al-Hallaj di Jawa

Sosok Syekh Siti Jenar senantiasa menarik dalam khazanah dan tradisi tasawuf di Jawa. Sebagian kalangan berpandangan bahwa Syekh Siti Jenar termasuk salah seorang dari sembilan orang wali (Walisongo) yang menyebarkan agama Islam di Jawa dan kemudian mengislamkannya, sementara sebagian lainnya menyatakan tidak. Selain karena keberadaannya masih diselimuti misteri tebal dan tidak jelas ada-tidaknya dalam sejarah Jawa, Syekh Siti Jenar juga mengembangkan paham keagamaan yang asing dan tidak lazim bagi kebanyakan penganut agama Islam di Jawa. Inilah beberapa faktor yang menyebabkan kajian tentang sosok dan ajaran Syekh Siti Jenar selalu menarik.

Seperti Al-Hallaj, seorang sufi martir dalam tradisi mistisisme Islam yang terkenal dengan ucapannya, “Akulah Yang Maha Benar!” (Anâ Al-Haqq) dan kemudian dieksekusi di tiang gantungan,
Syekh Siti Jenar, sang sufi Jawa ini, juga mengalami nasib hampir serupa dan mengembangkan paham keagamaan yang menyatakan bahwa manusia harus menjalin hubungan yang sangat intens dengan Tuhan. Hubungan seperti ini akan membuat manusia lebur dan menyatu dalam diri Tuhan (fanâ’ fî Allâh). Dalam khazanah tasawuf di Jawa, ajaran ini dikenal dengan paham Manunggaling Kawula-Gusti. Ihwal seperti apa dan sejauh mana pengaruh tasawuf Al-Hallaj di dalam doktrin mistisisme Syekh Siti Jenar bisa Anda baca lebih jauh dalam buku ini.

Meditasi Sufistik

Meditasi merupakan salah satu praktik mistis yang berkembang cukup pesat dewasa ini sejalan dengan maraknya minat dan meningkatnya semangat kehidupan spiritual dan mistis dalam masyarakat. Tasawuf atau mistisisme Islam sangat kaya dengan berbagai jenis praktik meditasi, seperti zikir, doa, wirid, i’tikaf, ‘uzlah, dan sebagainya. Inilah yang dinamakan meditasi sufistik, kalau boleh disebut demikian, untuk membedakan dengan praktik meditasi di luar tasawuf.

Sebagai salah satu praktik dalam tasawuf meditasi sufistik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, meditasi sufistik juga bisa dimanfaatkan manusia untuk menyegarkan hati dan pikiran dalam meraih kehidupan yang sehat dan bahagia.

Buku kecil dan sederhana ini membahas berbagai praktik meditasi sufistik yang dirasa masih sangat relevan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan kehidupan dunia moderen yang penuh dengan gelombang perubahan dan gejolak ketidak-pastian.

Hidup Bahagia Cara Sufi

Buku ini menjelaskan bahwa kebahagiaan muncul dari dalam diri sendiri yang didasarkan pada sikap sabar, ikhlas, syukur, ridha, tawakal, istiqamah, dan sebagainya. Sikap-sikap ini merupakan sikap hidup yang telah dicontohkan oleh para sufi. Jadi, hidup bahagia bukan faktor yang datang dari luar diri, seperti harta yang melimpah, apalagi kalau itu diperoleh dengan yang curang, seperti korupsi. Jiwa pelakunya bisa tertekan oleh rasa bersalah, kemudian Tuhan mencabut berkah hidupnya, sedang masyarakat akan mencibirkan, bahkan mengutuknya.


“Buku yang ditulis oleh Saudara Sudirman Tebba ini bisa menjadi pengantar bagi mereka yang ingin mendalami ajaran-ajaran kaum sufi. Tema-tema yang diangkat penulisnya adalah tema-tema keseharian yang sudah sangat akrab, seperti sabar, syukur, tawakal, qana’ah, dan lain-lain. Tetapi siapa mengira bahwa dalam tema-tema yang sederhana itu ternyata tersimpan mutiara makna hidup yang sejati”. (Prof Dr Komaruddin Hidayat)

Menuju Kematian yang Husnul Khatimah: Kiat Sukses Menjemput Maut

Setiap orang pasti akan mati dan setiap muslim tentu ingin mati secara husnul khatimah, yaitu mati dalam keadaan beriman kepada Allah. Inilah cara mati yang sukses. Kebalikannya ialah mati secara suul khatimah, yaitu mati dalam keadaan tidak beriman kepada Allah atau mati ketika melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah atau mati dalam keadaan meninggalkan perintah-Nya.

Untuk menjemput kematian seperti itu sebenarnya tidak susah, yaitu selalu berbuat baik kepada diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Kemudian selalu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk kepada diri sendiri, orang lain, dan Tuhan.

Tetapi kelihatannya banyak orang tidak mempersiapkan diri untuk menjemput kematian yang husnul khatimah. Ini terlihat pada masih maraknya kejahatan dan keburukan dalam kehidupan masyarakat dsan bangsa, seperti terjadinya korupsi, manipulasi, penipuan, pencurian, perampokan, dan sebagainya.

Masalah itu tentu saja sangat berbahaya, karena bisa mengantarkan orang kepada kematian yang suul khatimah. Kalau para pelaku kejahatan dan keburukan itu mati sebelum sempat bertaubat, atau mereka bertaubat tetapi Tuhan tidak menerimanya, maka hampir pasti mereka mati secara suul khatimah. Na’uzubillah min zalik, semoga Allah melindungi kita dari cara mati yang mengerikan itu.

Seks, Anugerah Tuhan?

Seks merupakan anugerah Tuhan, karena dengan seks itulah manusia dapat berkembang biak mengembangkan keturunannya dan memperoleh kenikmatan yang luar biasa, sehingga manusia bisa merasakan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan mereka.

Hanya saja seks itu kadang mengalami gangguan yang membuatnya tidak dapat menjalankan fungsinya sebagaimana mustinya. Gangguan itu ada yang bersifat psikologis, fisik dan penyakit pada kelamin. Gangguan psikologis misalnya kejenuhan. Masalah ini dapat diatasi dengan mengembangkan variasi posisi hubungan seks.

Gangguan fisik misalnya kesehatan terganggu karena pola makan yang salah dan konsumsi makanan yang merugikan fisik. Masalah ini dapat diatasi dengan mengikuti pola makan dan mengkonsumsi makanan yang dapat menjaga kesehatan dan keperkasaan seks. Sedang penyakit kelamin harus diobati secara khusus.

Di samping itu sebagai anugerah Tuhan seks harus dikendalikan agar tidak membuat manusia terjerembab dalam kehancuran. Seks yang tak terkendali seperti berhubungan seks di luar nikah atau zina, apalagi berganti-ganti pasangan, sangat mudah tertular dengan penyakit kelamin dan virus HIV/ AIDS yang mematikan itu.

Tafsir Al-Qur’an: Nikmatnya Cinta

Buku ini diberi judul Tafsir Al-Qur’an: Nikmatnya Cinta, karena menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang ber­bicara tentang cinta, kemudian dijelaskan uraian atau penaf­sir­an­nya. Jadi, buku ini termasuk tafsir tematik yang dalam ilmu tafsir disebut tafsir maudlu’i.

Cinta itu diciptakan nikmat oleh Tuhan sebagai motor penggerak dalam kehidupan manusia. Karena cintalah manusia merasa nikmat dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Sebaliknya, manusia merasa gelisah sewaktu mengerjakan larangan dan melaksanakan perintah-Nya.

Dengan cinta pula manusia merasa akrab, menikah dan tolong-menolong dalam pergaulan masyarakat. Cinta pula yang mendorong orang bekerja keras untuk me­menu­hi keperluan hidup diri, keluarga dan orang-orang yang di­cin­tainya. Tetapi Tuhan mengingatkan agar men­c­intai sesama dan harta benda tidak melebihi cinta kepada-Nya agar meraih keselamatan dunia dan akhirat.

Jadi, buku ini sangat pantas dibaca oleh mereka yang mendambakan kebahagiaan, kenikmatan dan kesem­pur­naan hidup.

Tafsir Al-Qur’an: Ayat-ayat Seks

Semula buku ini hendak diberi judul “Tafsir Al-Qur’an: Nikmatnya Seks”, tetapi kemudian diubah dengan judul sekarang, karena judul tadi itu terkesan vulgar, sehingga khawatir mengundang kritik yang tidak perlu dari berbagai pihak.

Padahal sebenarnya semua orang tahu, termasuk anak kecil bahwa seks itu nikmat. Selain itu Tuhan sendiri menjelaskan bahwa manusia, laki-laki dan perempuan dibuat tertarik, saling mencintai dan menyayangi satu sama lain agar mereka menikah dan merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam hubungan seks untuk berkembang biak dan mengembangkan keturunan mereka.

Tetapi ada ulama yang berpendapat bahwa kenikmatan dalam hubungan seks merupakan imbalan bagi suami dan isteri atas konsekuensi yang muncul dari hubungan seks itu, yakni lahirnya keturunan yang harus dipelihara, dirawat dan dididik sampai dewasa.

Untuk keperluan itu orang tua harus bekerja keras untuk mencari nafkah untuk menghidupi dan memelihara putera-puterinya. Tetapi keadaan yang susah payah ini tidak membuat orang tua atau suami-isteri jera melakukan hubungan seks, karena mereka mendapat kenikmatan yang setimpal dari hubungan itu.